Hidup seperti yang dikatakan oleh banyak orang bijak adalah perjuangan. Semuanya ada tahapan yang harus dilalui. Seorang bayi lahir mempunyai naluri untuk mencari air susu ibunya, lalu semakin waktu berjalan ia butuh dan suka jika disuapi bubur, kemudian seiring perkembangannya doyan juga ia dengan pisang, nasi, bahkan jika sudah dewasa pun jengkol tidak ditolak, he3...
Sama dengan cerita kehidupan ini. Meski tidak selalu linier dengan apa yang dilakukan dan diusahakannya. Tuhan Yang Maha Mengetahui telah menentukan jodoh, rezeki, dan ajal setiap yang bernyawa. Itu rumusan ya... . tapi untuk menghadapi realisasinya terkadang sulit dan butuh pembelajaran sepanjang hayat. Betapa tidak, disaat kita menginginkan jodoh yang diharapkan dan diimpikan tentunya, he3... ternyata kita malah diberikan seseorang yang tidak kita inginkan, bahkan tidak pernah terlintas sedikitpun dibenak kita. Kecewa... itu wajar... tapi ya jangan berlarut-larut ah...
Pun disaat orang-orang yang menggantungkan harapan mereka yang terlalu tinggi terhadap pendidikannya yang selama ini ditempuh dengan susah payahnya, dengan perjuangannya, pengorbanan waktunya, dengan harapan setelah selesai menempuh pendidikannya ia mudah mendapat pekerjaan sesuai cita-citanya, ketika tidak tercapai apa yang diharapkannya maka rasa kecewapun muncul.... itu wajar... tapi ya jangan berlarut-larut ah...
Yang terakhir, merinding jika diucapkan dan hampir-hampir sebisa mungkin tidak selalu disebut-sebut oleh sebagian dari kita, apa itu... ya, benar, kata "ajal"...
قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى ضَرًّا وَلَا
نَفْعًا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۗ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ ۚ إِذَا جَآءَ
أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَـْٔخِرُونَ سَاعَةً ۖ وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Katakanlah: "Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak
(pula) kemanfaatan kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah".
Tiap-tiap umat mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka
tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula)
mendahulukan(nya). (Q.S. Yunus: 49).